Monday, July 23, 2018

MAKALAH KONSELING PENDEKATAN HUMANISTIK



KONSELING PENDEKATAN HUMANISTIK
Makalah
Disusun guna memenuhi
Tugas mata kuliah : Bimbingan Konseling Agama
Dosen pengampu : Dra. Mariatul Kibtiyah. M.Ag


Disusun Oleh :


Nerika Dina S             (13111126 )

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UINIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016


I.                   PENDAHULUAN
Beberapa psikolog pada waktu yang sama tidak menyukai uraian psikodinamika dan behavioristik tentang kepribadian mereka merasa bahwa teori-teori yang menjadikan manusia itu berbeda dari binatang, beberapa psikolog aliran ini mendirikan sekolah yang di sebut dengan humaisme.  
Dalam pandangan humanisme manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dankemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku meeka. Saat ini di era globalisasi, permasalah yang muncul di sekolah semakin menjadi semakin kompleks. Perkembangan teori konseling saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini  tampak pada hasil-hasil penelitian yang dipublikasikan pada jurnal-jurnal penelitian baik skala nasional maupun internasional.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah pada dasarnya merupakan usaha menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi pada dunia bimbingan dan konseling. Fenomena yang terjadi di sekolah sebagai wahana pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling menjadi lahan yang baik bagi perkembangan teori konseling.  Saat ini, di era globalisasi,  permasalahan yang muncul di sekolah juga menjadi semakin kompleks.Permasalahan tidak saja berpusat kepada kesulitan belajar, tetapi juga masalah-masalah yang lain.
Oleh sebab itu dalam permasalahn-permasalahan di atas maka kita sebagai konselor harus mampu mengatasi permasalahn-permasalahan yang akan datang nantinya dengan tepat. Dalam hal ini penyusun ingin menjelaskan tentang teori humanistik dalam pendekatan bimbingan konseling.





II.RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana Pendekatan Humanistik Menurut Teori Rogers ?
B.Bagaimana Hakekat Manusia Menurut Pendekatan Humanistik?
C.Bagaimana Pribadi  Sehat Dan Tidak Sehat?
D.Bagaimana Tujuan Konseling Menurut Pendekatan Humanistik?
E.Bagaimana Peran dan Fungsikonselor ?

III.PEMBAHASAN
A.           Teori Rogers
Teori Rogers didasarkan pada prinsip humanistik bahwa jika orang diberi kebebasan dan dukungan emosional untuk bertumbuh, mereka bisa berkembang menjadi manusia yang berfungsi secara penuh. Tanpa kesamaaan atau pengarahan, tetapi didorong dengan lingkungan yang menerima dan memahami situasi terapeutik, orang akan memecahkan masalahnya sendiri dan berkembang menjadi jenis individu yang mereka inginkan.
Rogers mengatakan bahwa tiap-tiap dari individu memiliki dua self/diri. Diri yang kita rasakan sendiri (“I” atau “me” yang merupakan persepsi kita tentang diri kita sesungguhnya “real self”)dan diri kitayang ideal/diinginkan “ideal self” (yang kita inginkan). Rogers (1961) megajarkan bahwa masing-masing dari kita adalah korban dari conditional positive regard (memberikan cinta, pujian, dan penerimaan jika individu mematuhi norma orang tua atau norma social) yang orang lain tunjukkan kepada kita. Kita tidak bias mendapatkan cinta dan persetujuan orang tua atau orang lain kecuali bila mematuhi norma social dan aturan orang tua yang keras. Kita diperintahkan untuk melakukan apa yang harus kita lakukan dan kita pikirkan. Kita dicela, disebutkan nama, ditolak, atau dihukum jika kita tidak menjalani norma dari orang lain. Sering kali kita gagal, dengan akibat kita mengembangkan penghargaan diri yang rendah, menilai rendah diri sendiri, dan melupakan siapa diri kita sebenarnya.
Rogers mengatakan bahwa jika kita memiliki citra diri yang sangat buruk atau berperilaku buruk, kita memerlukan cinta, persetujuan, persahabatan, dan dukungan orang lain. Kita memerlukan unconditional positive regard (member dukungan dan apresiasi individu tanpa menghiraukan perilaku yang tak pantas secara social), bukan karena kita pantas mendapatkannya, tapi karena kita adalah manusia yang berharga dan mulia. Dengan itu semua, kita bisa menemukan harga diri dan kemampuan mencapai ideal self kita sendiri. Tanpa unconditional positive regard kita tidak dapat mengatasi kekurangan kita dan tak dapat menjadi orng yang berfungsi sepenuhnya.
Rogers mengajarkan bahwa individu yang sehat adalah individu yang sehat adalah individu yang berfungsi sepenuhnya, yaitu yang telah mencapai keselarasan antara diri yang nyata (real self) dan diri yang dicita-citakan (ideal self). Jika ada penggabungan anatara apa yang orang rasakan tentang bagaimana dirinya dan apa yang mereka inginkan, mereka mampu menerima dirinya menjadi diri sendiri dan hidup sebagai diri sendiri tanpa konflik.[1]
B.      Hakekat Manusia Menurut Pendekatan Humanistik
Pandangan tertentu tentang bagaimana sifat manusia terimplisit dalam konseling berpusat pada orang, karena pada dasarnya manusia itu baik. Manusia secara karakteristik posistif, maju, konstruktif, relistik, dan dapat di andalkan. Setiap orang sadar, terarah dan maju kearah aktualisasi sejak masa kanak-kanak.
Menurut Rogers, aktualisasi merupakan penggerak, aktualisasi diri merupakan penggerak yang paling umum dan memotivasi keberadaan, serta mencangkup tindakan yang mempengaruhi orang tersebut serta keseluruhan. Mahluk hidup mempunyai satu dasar kecenderungan dan perjungan yaitu aktualisasi diri, mempertahankan manusia yang merasakan hal tersebu. Para ahli teori yang berpusat pada orang yakin bahwa masing-masing orang mampu menemukan arti diri dan tujuan dlam hidup.Rogers  memandang individu dari perspektif fenomena logikal yang penting adalah persepsi manusia mengenai realita dibanding peristiwa yang terjadi itu sendiri.
     Cara memandang manusia ini mirip di banding konsep Adler. Konsep diri adalah gagasan yang dimiliki oleh Adler dan juga Rogers, tetapi pada konsep Rogers konsep tersebut adalah inti dari teorinya sehingga gagasannya sering disebut teoridiri. Diri adalah hasil dari pengalaman yang dialami seseorang dan suatu kesadaran akan diri dapat membantu orang membedakan dirinya dari orang lain. Agar muncul diri yang sehat seseorang membutuhkan perhatian positif-cinta, kehangatan, kasih sayang, respek dan penerimaan. Akan tetapi dimasa kanak-kanak dan dimasa kehidupan berikutnya seseorang sering kali menerima perhatian ,berpamrih dari orang tua dan orang lain. Rasa berharga berkembang jika seseorang berperilaku dalam cara tertentu karena penerimaan dengan pamrih mengajarkan pada orang tersebut bahwa dirinya dihargai hanya jika berkompromi dengan keinginan orang lain. Jadi seseorang terkadang harus menyangkal atau membelokkan persepsi ketika seseorang yang menjadi tempatnya bergantung memandang situasinya secara berbeda. Individu yang terjebak di dalam dilemma semacam itu akan menyadari adanya ketidaksamaan antara persepsi pribadi dan pengalaman. Jika seseorang tidak melakukan seperti apa yang diinginkan orang lain, diatidakakan diterima dan dihargai. Namun jika dia melakukan kompromi dia akan membuka jurang pemisah antara idealisme diri dan realita diri.[2]
C.     Pribadi Sehat dan Tidak Sehat
Rogers berpendapat bahwa pribadi yang sehat bukan merupakan keadaan dari ada, melainkan suatu proses, suatu arah bukan suatu tujuan. Hal ini mempunyai makna bahwa pribadi yang sehat bukan merupakan sesuatu yang ada sejak manusia dilahirkan, tetapi merupakansuatu proses pembentukan yang tidak pernah selesai. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak statis atau berhenti tetapi lebih pada usaha untuk terus menjadi sesuatu. Dengan demikian, Rogers menunjukkan bahwa individu yang sehat adalah mereka yang anatara lain:
1.Terbuka dengan pengalaman baru
2.Percaya pada diri sendiri
3.Mempergunakan sumber-sumber dalam diri untuk melakukanevaluasi.
4.Keinginan untuk terus tumbuh (willingness to continue growing). 
Pribadi yang tidak sehat menurut Rogers adalah mereka yang mengalami ketaksejajaran (incongruence) antara konsep diri (self-concept) dengan kenyataan yang ada. jika persepsi seseorang terhadap pengalaman itu terganggu atau ditolak, maka keadaan maladjusment atau vulnerability akan muncul. Keadaan incongruence ini dapat menimbulkan berbagai “penyakit” psikologis atau “neurotic behavior” seperti kecemasan, ketakutan, disorganisasi dan selalu menentukan nilai absolute.

D.    Tujuan Konseling Menurut Pendekatan Humanistik

Tujuan dalam konseling pendekatan humanistic berpusat pada klien sebagai manusia, bukan permasalahan yang dihadapinya. Rogers menekankan bahwa orang perlu bantuan untuk belajar bagaimana menghadapi berbagai situasi. Salah satu cara utama untuk mencapai hal tersebut adalah dengan membantu klien menjadi orang yang berfungsi penuh ,yang tidak menerapkan mekanisme pertahanan diri untuk menghadapi pengalaman sehari-hari. Individu semacam ini akan lebih berkeinginan untuk mengubah dan bertumbuh. Dia lebih terbuka terhadap pengalaman, lebih mempercayai persepsi diri sendiri dan berpatisipasi dalam eksplorasi serta evaluasi diri. Lebih jauh lagi orang yang berfungsi penuh mengembangkan penerimaan yang lebih besar akan dirinya dan orang lain serta menjadi pembuat keputusan yang lebih baik dimasa kini dan mendatang. Yang paling utama, klien dibantu untuk mengidentifikasikan, menggunakan dan mengintegrasikan sumberdaya dan potensi dirinya.

E.     Peran dan fungsi konselor
Perandan fungsi konselor sangatlah penting disini .Konselor membuat dan meningkatkan atmosfer dimana klien bebas dan di dorong untuk mengeksplorasi semua aspek mengenaidirinya. Pada teori humanistik ini di fokuskan pada hubungan konselor dan klien yang digambarkan oleh Rogers sebagai kualitas pribadi dengan “Saya-Anda” special. Konselor menyadari bahwabahasa verbal maupunnon verbal klien mengfleksibelkan kembali apa yang dia dengar maupun amati. Baik klien maupun konselor tidak tahusituasi tersebut akan mengarah kemana atau tujuan yang akan muncul selama proses konseling berlangsung. Klien adalah orang dalam proses tersebut yang diberi hak untuk mengarahkan terapinya sendiri. [3]
Jadi konselor menaruh kepercayaan pada kliennya untuk mengembangka agenda tentang apa yang dia ingin kerjakan. Tugas konselor adalah lebih sebagai fasilitator daripada pengarah. Pada pendekatan ini berpusat pada klien.[4]

IV. KESIMPULAN
Teori Rogers didasarkan pada suatu "daya hidup" yang disebut kecenderungan aktualisasi. Kecenderungan aktualisasi tersebut diartikan sebagai motivasi yang menyatu dalam setiap diri makhluk hidup dan bertujuan mengembangkan seluruh potensinya semaksimal mungkin.
Jadi, makhluk hidup bukan hanya bertujuan bertahan hidup saja, tetapi ingin memperoleh apa yang terbaik bagi keberadaannya. Dari dorongan tunggal inilah, muncul keinginan-keinginan atau dorongan-dorongan lain yang disebutkan oleh psikolog lain, seperti kebutuhan untuk udara, air, dan makanan, kebutuhan akan rasa aman dan rasa cinta, dan sebagainya.
Rogers berpendapat bahwa pribadi yang sehat bukan merupakan keadaan dari ada, melainkan suatu proses, suatu arah bukan suatu tujuan. Tujuan dalam konseling pendekatan humanistic berpusat pada klien sebagai manusia, bukan permasalahan yang dihadapinya. Rogers menekankan bahwa orang perlu bantuan untuk belajar bagaimana menghadapi berbagai situasi.
Konselor menaruh kepercayaan pada kliennya untuk mengembangka agenda tentang apa yang dia ingin kerjakan. Tugas konselor adalah lebih sebagai fasilitator daripada pengarah. Pada pendekatan ini berpusat pada klien.

V. PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat, kami sadar makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita semua.




Dafatar Pustaka
Aus Nasiban, Ladisi. 2004. Para Psikolog Terkemuka Dunia. Jakarta: Grassind
George Boeree. Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Yogyakarta: Prismasophie, 2008. 
Samuel T. Glading, Konseling Profesi Yang Menyeluruh. Jakarta : PT INDEKS 2012,


[1] Aus Nasiban, Ladisi. 2004. Para Psikolog Terkemuka Dunia. Jakarta: Grassind. Hal  34-35

[2] George Boeree. Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Yogyakarta: Prismasophie, 2008.  Hal.64-65
[3] Samuel T. Glading, Konseling Profesi Yang Menyeluruh. Jakarta : PT INDEKS 2012, hal 244-245http://niniing.blogspot.co.id/2012/11/teori-humanistik-carl-rogers.html
[4] 10 mei 2015