KONSELING PENDEKATAN HUMANISTIK
Makalah
Disusun guna memenuhi
Tugas mata kuliah : Bimbingan Konseling Agama
Dosen pengampu : Dra. Mariatul Kibtiyah. M.Ag
Disusun Oleh :
Nerika Dina S (13111126
)
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UINIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016
I.
PENDAHULUAN
Beberapa psikolog pada waktu yang sama tidak menyukai uraian
psikodinamika dan behavioristik tentang kepribadian mereka merasa bahwa
teori-teori yang menjadikan manusia itu berbeda dari binatang, beberapa
psikolog aliran ini mendirikan sekolah yang di sebut dengan humaisme.
Dalam pandangan humanisme manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan
perbuatannya serta mempunyai kebebasan dankemampuan untuk mengubah sikap dan
perilaku meeka. Saat ini di era globalisasi, permasalah yang muncul di sekolah
semakin menjadi semakin kompleks. Perkembangan teori konseling saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal
ini tampak pada hasil-hasil penelitian
yang dipublikasikan pada jurnal-jurnal penelitian baik skala nasional maupun internasional.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal-jurnal
ilmiah pada dasarnya merupakan usaha menjawab permasalahan-permasalahan yang
terjadi pada dunia bimbingan dan konseling. Fenomena yang terjadi di
sekolah sebagai wahana pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling menjadi
lahan yang baik bagi perkembangan teori konseling. Saat ini, di era
globalisasi, permasalahan yang muncul di sekolah juga menjadi semakin
kompleks.Permasalahan
tidak saja berpusat kepada kesulitan belajar, tetapi juga masalah-masalah yang
lain.
Oleh sebab itu dalam
permasalahn-permasalahan di atas maka kita sebagai konselor harus mampu
mengatasi permasalahn-permasalahan yang akan datang nantinya dengan tepat. Dalam
hal ini penyusun ingin menjelaskan tentang teori humanistik dalam pendekatan bimbingan
konseling.
II.RUMUSAN
MASALAH
A. Bagaimana Pendekatan Humanistik Menurut Teori Rogers ?
B.Bagaimana Hakekat Manusia Menurut Pendekatan Humanistik?
C.Bagaimana Pribadi Sehat Dan Tidak Sehat?
D.Bagaimana Tujuan Konseling Menurut Pendekatan Humanistik?
E.Bagaimana Peran dan Fungsikonselor ?
III.PEMBAHASAN
A.
Teori Rogers
Teori Rogers didasarkan pada
prinsip humanistik bahwa jika orang diberi kebebasan dan dukungan emosional
untuk bertumbuh, mereka bisa berkembang menjadi manusia yang berfungsi secara
penuh. Tanpa kesamaaan atau pengarahan, tetapi didorong dengan lingkungan yang
menerima dan memahami situasi terapeutik, orang akan memecahkan masalahnya
sendiri dan berkembang menjadi jenis individu yang mereka inginkan.
Rogers
mengatakan bahwa tiap-tiap dari individu memiliki dua self/diri. Diri yang kita
rasakan sendiri (“I” atau “me” yang merupakan persepsi kita
tentang diri kita sesungguhnya “real self”)dan diri kitayang
ideal/diinginkan “ideal self” (yang kita inginkan). Rogers (1961)
megajarkan bahwa masing-masing dari kita adalah korban dari conditional
positive regard (memberikan cinta, pujian, dan penerimaan jika individu
mematuhi norma orang tua atau norma social) yang orang lain tunjukkan kepada
kita. Kita tidak bias mendapatkan cinta dan persetujuan orang tua atau orang
lain kecuali bila mematuhi norma social dan aturan orang tua yang keras. Kita
diperintahkan untuk melakukan apa yang harus kita lakukan dan kita pikirkan.
Kita dicela, disebutkan nama, ditolak, atau dihukum jika kita tidak menjalani
norma dari orang lain. Sering kali kita gagal, dengan akibat kita mengembangkan
penghargaan diri yang rendah, menilai rendah diri sendiri, dan melupakan siapa
diri kita sebenarnya.
Rogers
mengatakan bahwa jika kita memiliki citra diri yang sangat buruk atau
berperilaku buruk, kita memerlukan cinta, persetujuan, persahabatan, dan
dukungan orang lain. Kita memerlukan unconditional positive regard (member
dukungan dan apresiasi individu tanpa menghiraukan perilaku yang tak pantas
secara social), bukan karena kita pantas mendapatkannya, tapi karena kita
adalah manusia yang berharga dan mulia. Dengan itu semua, kita bisa menemukan
harga diri dan kemampuan mencapai ideal self kita sendiri. Tanpa unconditional
positive regard kita tidak dapat mengatasi kekurangan kita dan tak dapat
menjadi orng yang berfungsi sepenuhnya.
Rogers mengajarkan
bahwa individu yang sehat adalah individu yang sehat adalah individu yang
berfungsi sepenuhnya, yaitu yang telah mencapai keselarasan antara diri yang
nyata (real self) dan diri yang dicita-citakan (ideal self). Jika
ada penggabungan anatara apa yang orang rasakan tentang bagaimana dirinya dan
apa yang mereka inginkan, mereka mampu menerima dirinya menjadi diri sendiri
dan hidup sebagai diri sendiri tanpa konflik.[1]
B.
Hakekat Manusia Menurut Pendekatan Humanistik
Pandangan tertentu tentang
bagaimana sifat manusia terimplisit dalam konseling berpusat pada orang, karena
pada dasarnya manusia itu baik. Manusia secara karakteristik posistif, maju,
konstruktif, relistik, dan dapat di andalkan. Setiap orang sadar, terarah dan
maju kearah aktualisasi sejak masa kanak-kanak.
Menurut Rogers, aktualisasi
merupakan penggerak, aktualisasi diri merupakan penggerak yang paling umum dan
memotivasi keberadaan, serta mencangkup tindakan yang mempengaruhi orang
tersebut serta keseluruhan. Mahluk hidup mempunyai satu dasar kecenderungan dan
perjungan yaitu aktualisasi diri, mempertahankan manusia yang merasakan hal
tersebu. Para ahli teori yang berpusat pada orang yakin bahwa masing-masing
orang mampu menemukan arti diri dan tujuan dlam hidup.Rogers memandang individu dari perspektif fenomena logikal
yang penting adalah persepsi manusia mengenai realita dibanding peristiwa yang
terjadi itu sendiri.
Cara memandang manusia ini mirip di banding konsep Adler. Konsep
diri adalah gagasan yang dimiliki oleh Adler dan juga Rogers, tetapi pada konsep
Rogers konsep tersebut adalah inti dari teorinya sehingga gagasannya sering disebut
teoridiri. Diri adalah hasil dari pengalaman yang dialami seseorang dan suatu kesadaran
akan diri dapat membantu orang membedakan dirinya dari orang lain. Agar muncul diri
yang sehat seseorang membutuhkan perhatian positif-cinta, kehangatan, kasih
sayang, respek dan penerimaan. Akan tetapi dimasa kanak-kanak dan dimasa kehidupan
berikutnya seseorang sering kali menerima perhatian ,berpamrih dari orang tua dan
orang lain. Rasa berharga berkembang jika seseorang berperilaku dalam cara tertentu
karena penerimaan dengan pamrih mengajarkan pada orang tersebut bahwa dirinya dihargai
hanya jika berkompromi dengan keinginan orang lain. Jadi seseorang terkadang harus
menyangkal atau membelokkan persepsi ketika seseorang yang menjadi tempatnya bergantung
memandang situasinya secara berbeda. Individu yang terjebak di dalam dilemma
semacam itu akan menyadari adanya ketidaksamaan antara persepsi pribadi dan pengalaman.
Jika seseorang tidak melakukan seperti apa yang diinginkan orang lain, diatidakakan
diterima dan dihargai. Namun jika dia melakukan kompromi dia akan membuka jurang
pemisah antara idealisme diri dan realita diri.[2]
C.
Pribadi Sehat dan Tidak Sehat
Rogers berpendapat bahwa pribadi yang sehat bukan merupakan keadaan dari ada, melainkan suatu proses, suatu arah bukan suatu tujuan. Hal ini mempunyai makna bahwa pribadi yang sehat bukan merupakan sesuatu yang ada sejak manusia dilahirkan, tetapi merupakansuatu proses
pembentukan yang tidak pernah selesai. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak statis atau berhenti tetapi lebih pada usaha untuk terus menjadi sesuatu. Dengan demikian, Rogers menunjukkan bahwa individu yang sehat adalah mereka yang anatara
lain:
1.Terbuka dengan pengalaman baru
2.Percaya pada diri sendiri
3.Mempergunakan sumber-sumber dalam diri untuk melakukanevaluasi.
4.Keinginan untuk terus tumbuh (willingness to
continue growing).
Pribadi yang tidak
sehat menurut Rogers adalah mereka yang mengalami ketaksejajaran (incongruence)
antara konsep diri (self-concept) dengan kenyataan yang ada. jika persepsi
seseorang terhadap pengalaman itu terganggu atau ditolak, maka keadaan
maladjusment atau vulnerability akan muncul. Keadaan
incongruence ini dapat menimbulkan berbagai “penyakit”
psikologis atau
“neurotic behavior” seperti kecemasan,
ketakutan, disorganisasi dan selalu menentukan nilai absolute.
D.
Tujuan Konseling Menurut Pendekatan Humanistik
Tujuan dalam konseling pendekatan humanistic berpusat pada klien sebagai manusia, bukan permasalahan yang
dihadapinya. Rogers menekankan bahwa orang perlu bantuan untuk belajar
bagaimana menghadapi berbagai situasi. Salah satu cara utama untuk mencapai hal
tersebut adalah dengan membantu klien menjadi orang yang berfungsi penuh ,yang
tidak menerapkan mekanisme pertahanan diri untuk menghadapi pengalaman sehari-hari.
Individu semacam ini akan lebih berkeinginan untuk mengubah dan bertumbuh. Dia lebih
terbuka terhadap pengalaman, lebih mempercayai persepsi diri sendiri dan berpatisipasi
dalam eksplorasi serta evaluasi diri. Lebih jauh lagi orang yang berfungsi penuh
mengembangkan penerimaan yang lebih besar akan dirinya dan orang lain serta menjadi
pembuat keputusan yang lebih baik dimasa kini dan mendatang. Yang paling utama,
klien dibantu untuk mengidentifikasikan, menggunakan dan mengintegrasikan sumberdaya
dan potensi dirinya.
E.
Peran dan fungsi konselor
Perandan fungsi konselor
sangatlah penting disini .Konselor membuat dan meningkatkan atmosfer dimana klien
bebas dan di dorong untuk mengeksplorasi semua aspek mengenaidirinya. Pada teori
humanistik ini di fokuskan pada hubungan konselor dan klien yang digambarkan oleh
Rogers sebagai kualitas pribadi dengan “Saya-Anda” special. Konselor menyadari bahwabahasa
verbal maupunnon verbal klien mengfleksibelkan kembali apa yang dia dengar maupun
amati. Baik klien maupun konselor tidak tahusituasi tersebut akan mengarah kemana
atau tujuan yang akan muncul selama proses konseling berlangsung. Klien adalah
orang dalam proses tersebut yang diberi hak untuk mengarahkan terapinya sendiri.
[3]
Jadi konselor menaruh
kepercayaan pada kliennya untuk mengembangka agenda tentang apa yang dia ingin kerjakan.
Tugas konselor adalah lebih sebagai fasilitator daripada pengarah. Pada pendekatan
ini berpusat pada klien.[4]
IV. KESIMPULAN
Teori
Rogers didasarkan pada suatu "daya hidup" yang disebut kecenderungan
aktualisasi. Kecenderungan aktualisasi tersebut diartikan sebagai motivasi yang
menyatu dalam setiap diri makhluk hidup dan bertujuan mengembangkan seluruh
potensinya semaksimal mungkin.
Jadi,
makhluk hidup bukan hanya bertujuan bertahan hidup saja, tetapi ingin
memperoleh apa yang terbaik bagi keberadaannya. Dari dorongan tunggal inilah,
muncul keinginan-keinginan atau dorongan-dorongan lain yang disebutkan oleh
psikolog lain, seperti kebutuhan untuk udara, air, dan makanan, kebutuhan akan
rasa aman dan rasa cinta, dan sebagainya.
Rogers berpendapat bahwa pribadi yang sehat bukan merupakan keadaan dari ada, melainkan suatu proses, suatu arah bukan suatu tujuan. Tujuan dalam konseling pendekatan humanistic berpusat pada klien sebagai manusia, bukan permasalahan yang
dihadapinya. Rogers menekankan bahwa orang perlu bantuan untuk belajar
bagaimana menghadapi berbagai situasi.
Konselor menaruh kepercayaan
pada kliennya untuk mengembangka agenda tentang apa yang dia ingin kerjakan. Tugas
konselor adalah lebih sebagai fasilitator daripada pengarah. Pada pendekatan ini
berpusat pada klien.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat, kami sadar makalah ini jauh dari
kata sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun dari pembaca
sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah
ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita semua.
Dafatar
Pustaka
Aus Nasiban, Ladisi. 2004. Para
Psikolog Terkemuka Dunia. Jakarta: Grassind
George Boeree. Personality
Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Yogyakarta:
Prismasophie, 2008.
Samuel T. Glading, Konseling
Profesi Yang Menyeluruh. Jakarta : PT INDEKS 2012,
[2] George Boeree. Personality Theories:
Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Yogyakarta: Prismasophie, 2008. Hal.64-65
[3] Samuel T. Glading, Konseling
Profesi Yang Menyeluruh. Jakarta : PT INDEKS 2012, hal 244-245http://niniing.blogspot.co.id/2012/11/teori-humanistik-carl-rogers.html
